Resume Ngobrol Seru#6 “Ketika Pekerjaan Menjadi Beban”

“Duh gw lagi, gw lagi…”

@ruangngobrol.id merupakan tempat untuk saling menginspirasi satu sama lain melalui obrolan dari para narasumber yang hadir menghiasi pengujung minggu pada waktu malam hari. Narasumber yang hadir dan berkenan memberikan materi merupakan suatu kebanggan dan prestasi tersendiri bagi Agung Widodo sang dibalik layar dari @ruangngobrol.id. Senang sekali rasanya Kak Wicitra Palupi dapat memenuhi undangan menjadi moderator pada Hari Sabtu, 23 Januari 2021. Pastinya semuanya merasa pernah merasa tertekan dalam bekerja, apalagi dalam mengemban sebuah tanggung jawab yang diberikan kepada kita. Malam minggu tersebut bersama Ibu Sylvina Savitri S.Psi, M.Psi, LCPC membedah banyak sekali cara pandang baru terhadap sikap dan mindset akan pekerjaan yang akan diterima.

            Obrolan malam tadi pun terasa berwarna karena teman-teman sangat antusias untuk memberikan pertanyaan yang berupa keluhan untuk mencari solusi yang dilemparkan ke Kak Pipin. Diawali dengan obrolan kebangaan terhadap ASN bahwa tantangan pekerjaan fisik dan psikologis yang diberikan sebagai tanggung jawab merupakan pride tersendiri bagi setiap pegawai dan apalagi adalah kedua orang tua sebagaian besar masyaraka Indonesia. Rasa bangga yang dirasakan adalah selain orang tua adalah negara karena telah merekrut pegawai yang telah berhasil melewati dari challenge yang diberikan setiap tugas dan wewenangnya. Bahwa sesuatu yang dilihat positif itu akan memberikan energi, jadi jangan fokus hanya ke tantangan saja, namun dengan mempunyai kalimat itu saja “ayo semangat” “kupasti bisa” sekecil itu bisa membawa energi untuk menyelesaikan tantangan.

            Kemudian ketika resiko menjadi beban, memiliki 2 kata yang harus digaris bawahi adalah kata Resiko dan Beban. Percayalah setiap pekerjaan memiliki resiko, dan kemudian yang menjadi masalah adalah ketika resiko tersebut akan menjadi beban. Yang harus dilakukan adalah bagaimana resiko tersebut dikelola dengan baik untuk menuju kesukesan. Peluang terbesar dalam hidup kita adalah hadirnya resiko dan ketakutan, Rasa takut harus dilalui, dan jika tidak dilewati maka akan ada rasa penyesalan yang muncul. Setiap insan wajib menganalisa ketakutan yang muncul untuk mencari kemungkinan yang akan terjadi. Resiko sering kali dikaitkan dengan hal yang buruk akan terjadi, dan memungkinkan stress akan terjadi walaupun belum terjadi.

            Sering kali pekerjaan yang belum dilakukan sudah stress terlebih dahulu atas pikiran yang dialami. Resiko dapat diukur oleh pilihan yang kita lakukan, cukup menjadi follower yang baik sudah meminimalisir resiko atas terjadi jika akan diminta utnuk menjadi public speaker, at least mengajukan pertanyaan sudah berani. Kadang yang akan dijalani, tidak seseram atas cerita oleh orang lain, dan dimungkinkan takut karena sudah terlintas pada pikiran kita. Menurut Pressure Perfomance Curve yang memiliki tingkat presure tingkat rendah hingga tinggi, untuk boredom tingkat presure paling rendah sampai overwhelmed, pada tingkat tengah relaxred dan comfort pun tetap sama tidak akan mempengaruhi perfomance, jadi kesimpulannya adalah pada kelas strech (positif) pada tantangan yang kuat maka akan naik produktifitasnya. Kemudian tekanan kerja terlalu tinggi yaitu “Burn Out” adalah memiliki tekanan kerja terlalu tinggi yang disebabkan banyak diantaranya jam kerja terlalu panjang, pekerjaan selalu datang menghinggapi, dan sampai pada titik tidak bisa berfikir yang mengakibatkan sakit. Sama halnya dengan bahayanya bosan (tekanan kerja terlalu rendah)

            The cure of boredom is curiosity. There is no cure for curiosity (Obat kebosanan adalah rasa ingin tahu. Tidak ada obat untuk rasa ingin tahu). Jadi semakin tinggi tingkat kepo akan mengalahkan rasa kebosanan. Berikut salah satu tips untuk Bicaralah dari hati ke hati (love your self) :

  1. Apa yang betul-betul saya inginkan?
  2. Apa hal baru yang saya pelajari dari diri saya 1 bulan terakhir ini?
  3. Apa yang membuat saya kesal?
  4. Apa yang membuat saya bersemangat?
  5. Siapa yang akan bangga dan bahagia bila saya berhasil dan berprestasi?
  6. Apa yang menahan saya untuk bergerak?
  7. Kapan waktu yang tepat untuk memulai?

Fokus pada rencana untuk “bergerak”; dengan menghadiahi tantangan baru, menuliskan life goals, fokus untukmemberi, dalamihobi, tingkat keterampilan, jalin koneksi, dan ciptakan project ataupun peran baru. Pada intinya adala No risk, No Magic, jadi resiko akan menimbulkan sebuah kesempatan untuk hadiah kesukesan.

Diterbitkan oleh ruangngobrol.id

Pegawai biasa biasa saja.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: